9 Sifat Calon Pasangan Menurut Islam, Wajib Dipertimbangkan

9 Sifat Calon Pasangan Menurut Islam, Wajib Dipertimbangkan


Memilih calon pasangan hidup merupakan keputusan besar yang tidak cukup didasarkan pada rasa suka. Dalam perspektif Islam, kualitas agama dan akhlak menjadi pertimbangan penting karena pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga membangun kehidupan bersama dalam jangka panjang. Karena itu, calon pasangan idealnya dinilai dari karakter, tanggung jawab, cara menghadapi masalah, serta kesiapannya membangun keluarga.

Di era media sosial, penilaian terhadap calon pasangan terkadang terlalu berfokus pada penampilan, pekerjaan, gaya hidup, atau jumlah pengikut. Padahal, hal-hal tersebut belum tentu menggambarkan bagaimana seseorang bersikap ketika menghadapi tekanan kehidupan rumah tangga.

Lantas, seperti apa sifat calon pasangan yang sebaiknya dicari menurut Islam?

Mengapa Memilih Pasangan Tidak Cukup Berdasarkan Perasaan?

Perasaan cinta memang penting dalam hubungan, tetapi cinta saja tidak otomatis membuat rumah tangga bertahan.

Seseorang bisa terlihat sangat romantis ketika sedang pendekatan, tetapi karakter sebenarnya dapat terlihat ketika menghadapi perbedaan pendapat, masalah keuangan, tekanan pekerjaan, atau konflik dengan keluarga.

Dalam Islam, agama dan akhlak menjadi pertimbangan penting dalam memilih pasangan. Karena itu, calon pasangan sebaiknya dilihat secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari rasa nyaman ketika sedang bersama.

9 Sifat yang Sebaiknya Ada pada Calon Pasangan

1. Memiliki Komitmen terhadap Agama

Agama sebaiknya tidak hanya terlihat dari simbol atau penampilan. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai agama diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang yang memiliki komitmen terhadap agama akan berusaha menjaga ibadah, memahami batasan halal dan haram, serta mempertimbangkan nilai agama ketika mengambil keputusan.

Dalam rumah tangga, kesamaan visi keagamaan dapat membantu pasangan menentukan arah pendidikan anak, pengelolaan keluarga, hingga cara menghadapi persoalan.

Namun, perlu dibedakan antara orang yang benar-benar berusaha menjalankan agama dengan orang yang hanya ingin terlihat religius di depan orang lain.

2. Memiliki Akhlak yang Baik

Akhlak merupakan salah satu hal penting yang perlu diperhatikan ketika mengenal calon pasangan.

Jangan hanya melihat bagaimana ia memperlakukan diri kita saat sedang ingin mendapatkan perhatian. Perhatikan pula bagaimana sikapnya kepada orang tua, saudara, teman, pekerja pelayanan, tetangga, dan orang yang tidak memiliki kepentingan dengannya.

Contohnya, ketika makan di restoran, perhatikan apakah ia menghargai pelayan. Ketika berkunjung ke rumah keluarga, apakah ia mampu berbicara sopan tanpa merendahkan orang lain?

Perilaku kecil seperti ini dapat memberikan gambaran mengenai karakter seseorang.

3. Jujur dan Terbuka

Kejujuran menjadi salah satu fondasi penting dalam hubungan jangka panjang.

Calon pasangan idealnya terbuka mengenai hal-hal yang berdampak pada kehidupan setelah menikah, seperti pekerjaan, kondisi finansial, tanggungan keluarga, rencana tempat tinggal, hingga tujuan hidup.

Bukan berarti seluruh masa lalu seseorang harus dibongkar tanpa batas. Namun, informasi penting yang dapat memengaruhi keputusan pernikahan sebaiknya tidak disembunyikan.

Dalam praktiknya, kejujuran bisa dilihat dari konsistensi perkataan dan tindakan. Apakah ia berani mengakui kesalahan? Apakah ceritanya selalu berubah ketika ditanya kembali? Apakah ia terbiasa memberikan alasan ketika perkataannya tidak sesuai kenyataan?

Hal-hal tersebut layak diperhatikan.

4. Bertanggung Jawab

Pernikahan membutuhkan tanggung jawab, bukan sekadar perasaan cinta.

Seseorang yang bertanggung jawab biasanya berusaha menyelesaikan kewajibannya, tidak mudah melempar kesalahan kepada orang lain, dan memahami konsekuensi dari keputusan yang dibuat.

Calon pasangan yang memiliki pekerjaan dengan penghasilan belum besar bukan berarti tidak layak dipertimbangkan. Yang perlu dilihat adalah etos kerja, kemauan berusaha, kemampuan mengatur kebutuhan, serta kesediaannya merencanakan masa depan.

Kemauan untuk bertanggung jawab sering kali lebih penting daripada sekadar terlihat sudah mapan.

5. Mampu Mengendalikan Emosi

Tidak ada rumah tangga yang selalu berjalan tanpa perbedaan pendapat.

Karena itu, kemampuan mengelola emosi menjadi kualitas yang sangat penting. Calon pasangan tidak harus selalu tenang atau tidak pernah marah. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana ia menghadapi kemarahan.

Perlu berhati-hati apabila seseorang terbiasa mengancam, menghina, merendahkan, mempermalukan pasangan, atau menggunakan kemarahan untuk mengendalikan orang lain.

Sebaliknya, pasangan yang sehat akan berusaha menyelesaikan konflik melalui komunikasi dan mencari jalan keluar bersama.

6. Mampu Berkomunikasi dengan Baik

Komunikasi bukan hanya kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan mendengarkan.

Calon pasangan sebaiknya mampu membicarakan persoalan sensitif tanpa langsung menghindar atau menyerang lawan bicara.

Sebelum menikah, pasangan sebaiknya membicarakan berbagai hal yang realistis, seperti:

  • tempat tinggal setelah menikah;
  • pekerjaan suami dan istri;
  • pengelolaan penghasilan;
  • utang dan kewajiban finansial;
  • hubungan dengan keluarga besar;
  • rencana memiliki anak;
  • pembagian pekerjaan rumah;
  • pendidikan anak;
  • penggunaan media sosial.

Pembicaraan tersebut mungkin tidak terdengar romantis, tetapi justru dapat mencegah munculnya konflik besar setelah menikah.

7. Menghargai Pasangan

Hubungan yang sehat membutuhkan rasa saling menghormati.

Calon pasangan sebaiknya mampu menghargai pendapat, pekerjaan, keluarga, waktu, dan batas pribadi pasangannya.

Perbedaan pendapat tidak otomatis berarti hubungan tersebut buruk. Yang penting adalah bagaimana perbedaan itu diselesaikan.

Misalnya, pasangan berbeda pandangan mengenai apakah setelah menikah istri akan bekerja atau fokus mengurus rumah. Persoalan tersebut sebaiknya dibicarakan bersama dan tidak dipaksakan secara sepihak.

Perbedaan dapat dikelola jika ada rasa hormat. Sebaliknya, kesamaan sekalipun bisa menjadi masalah apabila hubungan dipenuhi sikap saling merendahkan.

8. Memiliki Sikap Finansial yang Sehat

Islam tidak menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya ukuran dalam memilih pasangan. Namun, kehidupan rumah tangga tetap membutuhkan kemampuan mengelola kebutuhan ekonomi.

Karena itu, calon pasangan sebaiknya memiliki sikap finansial yang sehat.

Tidak harus mempunyai rumah, mobil, atau penghasilan tinggi. Yang lebih penting adalah tidak menyembunyikan utang, tidak terbiasa menghamburkan uang, serta mau membuat perencanaan keuangan bersama.

Sebagai contoh, pasangan yang belum memiliki rumah bukan berarti tidak siap menikah. Jika keduanya sepakat untuk mengontrak, menabung, dan membuat target keuangan, kondisi tersebut masih dapat dikelola.

Sebaliknya, penghasilan besar juga dapat menjadi masalah jika seseorang memiliki kebiasaan konsumtif dan tidak mampu mengendalikan pengeluaran.

9. Mau Belajar dan Berkembang Bersama

Tidak ada manusia yang sempurna.

Calon pasangan mungkin memiliki sejumlah kekurangan, tetapi yang perlu dilihat adalah apakah ia mau belajar dan memperbaiki diri.

Misalnya, seseorang mengakui bahwa dirinya belum pandai mengelola keuangan. Jika ia bersedia belajar membuat anggaran, mengurangi pengeluaran konsumtif, dan berdiskusi dengan pasangan, hal tersebut menunjukkan kemauan untuk berkembang.

Begitu pula dalam komunikasi. Seseorang mungkin belum terbiasa mengungkapkan perasaan, tetapi jika ia mau belajar mendengarkan dan menyampaikan masalah dengan lebih baik, itu merupakan tanda positif.

Sifat mau bertumbuh sangat penting karena kehidupan setelah menikah akan terus berubah.

Cara Menilai Karakter Calon Pasangan

Salah satu kesalahan ketika memilih pasangan adalah hanya menilai seseorang dari perilakunya ketika sedang berusaha mendapatkan hati kita.

Masa pendekatan sebaiknya digunakan untuk mengenal karakter secara lebih realistis.

Lihat Konsistensi Perilakunya

Perhatikan apakah perilakunya sama ketika bersama Anda, keluarga, teman, dan orang lain.

Seseorang mungkin sangat baik ketika sedang berdua dengan calon pasangan, tetapi berbeda ketika berhadapan dengan orang lain.

Perhatikan Cara Menghadapi Masalah

Ketika rencana tidak berjalan sesuai keinginan, apakah ia mencari solusi atau justru langsung menyalahkan orang lain?

Respons seseorang terhadap masalah dapat memberikan gambaran tentang kedewasaan emosionalnya.

Amati Cara Memperlakukan Orang Lain

Perhatikan bagaimana ia memperlakukan kasir, petugas keamanan, pengemudi, pelayan restoran, tetangga, atau orang lain yang dianggap tidak memiliki kepentingan dengannya.

Sikap tersebut terkadang justru lebih jujur daripada kata-kata manis ketika sedang pendekatan.

Bahas Persoalan Kehidupan Nyata

Jangan hanya membicarakan hobi, makanan favorit, film, atau tempat liburan.

Jika hubungan sudah serius, bahas pula pekerjaan, keluarga, keuangan, anak, tempat tinggal, pembagian tugas rumah, dan tujuan hidup.

Mintalah Pandangan Orang yang Dipercaya

Dalam proses menuju pernikahan, pandangan dari orang tua, keluarga, atau orang yang bijaksana dapat membantu melihat hal-hal yang mungkin terlewat.

Bukan berarti keputusan harus sepenuhnya diserahkan kepada orang lain. Namun, sudut pandang tambahan dapat menjadi bahan pertimbangan.

Mengapa Persiapan Pernikahan Perlu Serius?

Pernikahan bukan keputusan kecil karena kehidupan setelah akad akan menghadirkan berbagai tanggung jawab baru.

Kementerian Agama melalui program Bimbingan Perkawinan memberikan pembekalan kepada calon pengantin agar lebih siap menghadapi kehidupan rumah tangga, termasuk dari sisi mental dan ekonomi.

Persiapan tersebut menunjukkan bahwa pernikahan tidak cukup hanya dengan rasa cinta. Pasangan juga membutuhkan kesiapan untuk berkomunikasi, menyelesaikan masalah, mengelola kehidupan ekonomi, serta menjalankan peran dalam keluarga.

Karena itu, sebelum menikah, pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya:

“Apakah saya mencintainya?”

Tetapi juga:

“Apakah kami memiliki nilai yang sejalan?”

“Apakah kami mampu menyelesaikan konflik dengan sehat?”

“Apakah kami siap menghadapi persoalan ekonomi?”

“Apakah kami saling menghormati?”

“Apakah kami bersedia belajar dan berkembang bersama?”

Jangan Mencari Pasangan yang Sempurna

Sembilan sifat di atas bukan berarti calon pasangan harus memiliki semua kualitas tanpa kekurangan.

Setiap manusia memiliki kelemahan dan pernah melakukan kesalahan.

Yang lebih penting adalah menemukan seseorang yang memiliki fondasi karakter baik, mau bertanggung jawab, terbuka terhadap nasihat, serta memiliki kemauan untuk memperbaiki diri.

Selain menilai calon pasangan, seseorang juga perlu mengevaluasi dirinya sendiri.

Jika ingin mendapatkan pasangan yang jujur, kita juga harus belajar jujur.

Jika ingin memiliki pasangan yang sabar, kita juga harus melatih kesabaran.

Jika mengharapkan pasangan yang bertanggung jawab, kita harus menunjukkan tanggung jawab dalam kehidupan sendiri.

Dengan begitu, mencari pasangan bukan hanya tentang menemukan seseorang yang baik, tetapi juga mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan yang baik.

FAQ Calon Pasangan Menurut Islam

Apa sifat paling penting dalam memilih calon pasangan menurut Islam?

Agama dan akhlak merupakan pertimbangan penting. Selain itu, calon pasangan juga perlu dinilai dari kejujuran, tanggung jawab, kemampuan mengendalikan emosi, komunikasi, serta kesiapan menjalani kehidupan rumah tangga.

Apakah pasangan harus kaya agar rumah tangga bahagia?

Tidak. Kekayaan bukan satu-satunya ukuran. Sikap bertanggung jawab, kejujuran dalam kondisi keuangan, kemampuan mengelola kebutuhan, dan kesediaan membuat perencanaan bersama juga penting.

Bagaimana cara mengetahui akhlak calon pasangan?

Jangan hanya melihat perkataannya. Perhatikan konsistensi perilaku, cara memperlakukan orang lain, respons ketika menghadapi masalah, serta sikap ketika keinginannya tidak terpenuhi.

Apakah perbedaan karakter menjadi masalah dalam pernikahan?

Tidak selalu. Perbedaan karakter dapat dikelola selama pasangan memiliki komunikasi yang baik, saling menghormati, dan mampu mencari jalan tengah.

Apakah calon pengantin perlu mengikuti bimbingan perkawinan?

Bimbingan perkawinan dapat membantu calon pengantin memahami berbagai aspek kehidupan rumah tangga serta mempersiapkan diri secara mental dan ekonomi sebelum menikah.

Kesimpulan

Memilih calon pasangan menurut Islam bukan hanya tentang mencari seseorang yang menarik hati. Agama dan akhlak perlu menjadi fondasi, kemudian dilengkapi dengan sifat jujur, bertanggung jawab, mampu mengendalikan emosi, komunikatif, menghargai pasangan, memiliki sikap finansial yang sehat, serta mau berkembang.

Tidak ada pasangan yang sempurna. Yang jauh lebih penting adalah menemukan seseorang yang memiliki nilai dasar yang baik dan bersedia menjalani proses kehidupan bersama.

Sebelum bertanya, “Apakah dia pasangan yang baik untuk saya?”, tanyakan pula kepada diri sendiri:

“Apakah saya sudah berusaha menjadi pasangan yang baik untuk orang lain?”

⚑ APRESIASI PEMBACA

Konten ini gratis dan dibuat untuk membantu para Pembaca. Kalau bermanfaat, dukung Mitraloker lewat secangkir kopi ya 🙏

☕ Traktir Mitraloker