Pernah bertanya kepada seseorang, “Mau makan apa?” lalu hanya mendapat jawaban, “terserah”? Sekilas, kata tersebut terdengar sederhana. Namun, jika seseorang terlalu sering menggunakannya dalam berbagai situasi, jawaban itu bisa menunjukkan pola komunikasi tertentu, mulai dari tidak ingin mengambil keputusan hingga berusaha menghindari konflik.
Dalam percakapan sehari-hari, “terserah” sebenarnya tidak selalu bermakna negatif. Ada orang yang mengatakannya karena memang fleksibel, tidak mempunyai pilihan khusus, atau ingin memberikan kebebasan kepada lawan bicara. Sebaliknya, ada pula yang menggunakan kata tersebut ketika sedang lelah, kecewa, kesal, atau merasa pendapatnya tidak akan didengarkan.
Karena itu, memahami kebiasaan menjawab “terserah” sebaiknya tidak dilakukan hanya dari satu percakapan. Perhatikan situasi, intonasi, ekspresi wajah, serta pola komunikasi secara keseluruhan.
Apa Arti “Terserah” dalam Percakapan?
“Terserah” memiliki makna yang sangat bergantung pada konteks.
Ketika teman bertanya, “Mau makan nasi goreng atau bakso?” dan Anda menjawab “terserah”, bisa jadi Anda memang tidak memiliki preferensi. Anda bersedia mengikuti pilihan teman.
Namun, arti kalimat tersebut dapat berubah ketika seseorang menjawab dengan nada pendek, wajah murung, atau setelah terjadi perdebatan.
Misalnya:
“Kita jadi pergi malam ini?”
“Terserah.”
Dalam situasi tersebut, “terserah” mungkin bukan berarti bebas menentukan pilihan. Bisa saja orang tersebut sedang tidak ingin memperpanjang pembicaraan.
Jadi, kata “terserah” tidak dapat digunakan sebagai patokan tunggal untuk menentukan kepribadian seseorang.
1. Cenderung Fleksibel dan Tidak Banyak Menuntut
Salah satu kemungkinan paling sederhana adalah orang tersebut memang fleksibel.
Ia tidak mempunyai masalah ketika harus mengikuti pilihan orang lain. Dalam urusan sederhana seperti menentukan tempat makan, film yang ingin ditonton, atau lokasi nongkrong, ia tidak merasa perlu selalu menentukan keputusan.
Contohnya dalam kehidupan sehari-hari:
“Besok makan di mana?”
“Terserah kamu.”
Jika setelah itu dia tetap menikmati pilihan yang dibuat, tidak menunjukkan kekecewaan, dan komunikasinya berjalan normal, “terserah” kemungkinan memang menunjukkan sikap fleksibel.
Orang dengan pola seperti ini biasanya tidak ingin menghabiskan terlalu banyak energi untuk keputusan kecil.
2. Tidak Ingin Memperbesar Perdebatan
Ada juga orang yang menggunakan “terserah” untuk mengakhiri perdebatan.
Misalnya, dua orang sedang menentukan tujuan liburan. Satu orang menginginkan Bandung, sementara yang lain memilih Yogyakarta. Setelah berdiskusi cukup lama, salah satunya berkata, “Ya sudah, terserah.”
Kalimat tersebut mungkin bukan tanda bahwa ia benar-benar tidak peduli.
Ia bisa saja merasa diskusi mulai melelahkan dan memilih berhenti berdebat.
Dalam konteks ini, “terserah” berfungsi sebagai cara untuk meredakan ketegangan.
3. Cenderung Menghindari Konflik
Sebagian orang merasa tidak nyaman ketika harus berhadapan dengan konflik.
Daripada mengatakan secara langsung:
“Saya sebenarnya tidak setuju.”
mereka memilih jawaban yang lebih aman:
“Terserah.”
Kebiasaan tersebut dapat muncul dalam hubungan pertemanan, keluarga, pekerjaan, maupun pasangan.
Contohnya di lingkungan kantor. Ketika tim menentukan desain untuk sebuah proyek, seorang karyawan sebenarnya mempunyai pendapat berbeda. Namun karena tidak ingin terjadi perdebatan dengan rekan kerja atau atasan, ia memilih mengatakan, “Terserah, ikut keputusan tim saja.”
Jika dilakukan terus-menerus, pola tersebut justru dapat membuat pendapat pribadi tidak tersampaikan.
4. Sulit Menentukan Pilihan
“Terserah” juga bisa muncul karena seseorang memang kesulitan mengambil keputusan.
Ada orang yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menentukan pilihan, bahkan untuk hal sederhana.
Ketika ditanya:
“Mau pesan ayam geprek atau ayam bakar?”
Jawabannya:
“Terserah.”
Bukan berarti ia sedang marah. Bisa saja ia benar-benar tidak tahu mana yang ingin dipilih.
Jika keputusan tersebut memiliki banyak pilihan, orang seperti ini mungkin semakin mudah merasa bingung.
Bukan berarti selalu tidak punya pendirian
Penting untuk membedakan antara sulit memilih dan tidak memiliki pendirian.
Seseorang mungkin sangat tegas dalam keputusan besar seperti pekerjaan, pendidikan, atau keuangan, tetapi santai dalam memilih makanan.
Karena itu, jangan buru-buru memberikan label hanya berdasarkan kebiasaan kecil.
5. Sedang Lelah Secara Mental
Kondisi seseorang ketika ditanya juga sangat berpengaruh.
Setelah menjalani hari yang panjang, seseorang mungkin tidak mempunyai energi untuk memikirkan keputusan kecil.
Misalnya, seorang pekerja pulang setelah menghadapi banyak pekerjaan dan kemudian ditanya:
“Makan malam mau apa?”
Jawabannya:
“Terserah.”
Bisa jadi dia bukan tidak menghargai orang yang bertanya. Ia hanya sedang ingin mengurangi beban berpikir.
Dalam kondisi seperti itu, pertanyaan sederhana sekalipun dapat terasa melelahkan.
6. Tidak Ingin Merepotkan Orang Lain
Ada orang yang terbiasa menempatkan kebutuhan orang lain di atas keinginannya sendiri.
Ketika ditanya:
“Kamu mau makan apa?”
Ia menjawab:
“Terserah, kamu saja.”
Tujuannya mungkin agar orang lain tidak merasa harus mengikuti keinginannya.
Sikap ini dapat terlihat menyenangkan karena kompromis. Namun, jika terlalu sering dilakukan, kebutuhan dan keinginan pribadi justru bisa tidak pernah disampaikan.
Dalam hubungan jangka panjang, komunikasi seperti ini berpotensi membuat pasangan atau teman kesulitan mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan.
7. Bisa Menjadi Bentuk Kekecewaan yang Tidak Diungkapkan
Ini merupakan konteks yang perlu diperhatikan.
Ada kalanya “terserah” merupakan jawaban dari seseorang yang sebenarnya kecewa.
Misalnya, seorang teman sudah beberapa kali mengusulkan kegiatan. Namun setiap kali memberikan pendapat, pilihannya selalu ditolak.
Pada suatu kesempatan berikutnya, ketika ditanya:
“Mau pergi ke mana?”
Ia menjawab:
“Terserah.”
Dalam situasi ini, jawaban tersebut mungkin mengandung pesan tersirat: “Saya sudah lelah memberikan pendapat karena sebelumnya tidak didengarkan.”
Namun, sekali lagi, ini tidak bisa dipastikan hanya dari kata tersebut.
Perlu melihat perilaku sebelum dan sesudahnya.
8. Mengharapkan Orang Lain Lebih Peka
Dalam hubungan dekat, “terserah” terkadang digunakan ketika seseorang berharap lawan bicara dapat memahami perasaannya tanpa penjelasan panjang.
Contohnya:
“Kamu kenapa?”
“Enggak apa-apa.”
“Mau makan apa?”
“Terserah.”
Jika pola tersebut disertai perubahan ekspresi, nada bicara, atau sikap yang berbeda, mungkin terdapat sesuatu yang belum disampaikan.
Masalahnya, komunikasi berbasis tebakan seperti ini cukup mudah menimbulkan kesalahpahaman.
Orang lain tidak selalu bisa mengetahui isi pikiran kita tanpa diberi penjelasan.
9. Lebih Nyaman Mengikuti Keputusan Orang Lain
Orang yang sering mengatakan “terserah” mungkin memang nyaman menjadi pihak yang mengikuti keputusan.
Dalam kelompok, misalnya, ia tidak keberatan ketika teman menentukan tempat makan, jadwal bertemu, atau aktivitas yang dilakukan.
Ini bukan sifat buruk.
Justru dalam situasi tertentu, orang yang mudah berkompromi dapat membantu kelompok mengambil keputusan lebih cepat.
Yang menjadi persoalan adalah ketika ia selalu mengikuti orang lain meskipun sebenarnya tidak setuju.
10. Jawaban “Terserah” Bisa Menjadi Kebiasaan Komunikasi
Tidak semua “terserah” mempunyai makna psikologis yang dalam.
Ada orang yang memang sudah terbiasa menggunakan kata tersebut.
Misalnya:
“Besok berangkat jam berapa?”
“Terserah.”
“Mau kopi atau teh?”
“Terserah.”
“Film apa?”
“Terserah.”
Jika orang tersebut berbicara dengan nada santai dan tetap terlibat dalam percakapan, mungkin “terserah” hanyalah gaya komunikasinya.
Karena itu, jangan menjadikan satu kebiasaan bahasa sebagai dasar untuk menilai karakter seseorang secara keseluruhan.
Kapan Jawaban “Terserah” Perlu Diperhatikan?
Kata “terserah” baru perlu mendapatkan perhatian lebih ketika muncul bersama perubahan perilaku lain.
Misalnya:
- tiba-tiba menjadi lebih pendiam;
- sering menghindari percakapan;
- mudah tersinggung;
- tidak lagi menyampaikan pendapat;
- sering mengatakan “terserah” setelah pendapatnya ditolak;
- menunjukkan ekspresi kecewa ketika orang lain mengambil keputusan;
- atau menggunakan “terserah” dengan nada sinis.
Dalam situasi seperti ini, jangan langsung membalas dengan, “Ya sudah kalau terserah.”
Lebih baik mencoba komunikasi terbuka.
Contohnya:
“Aku merasa kamu kurang nyaman. Kalau memang ada pilihan yang kamu inginkan, boleh bilang. Aku akan dengarkan.”
Kalimat sederhana seperti itu dapat membuka ruang bagi orang tersebut untuk menyampaikan perasaannya.
Contoh “Terserah” dalam Kehidupan Sehari-hari
Agar lebih mudah memahami perbedaannya, perhatikan beberapa contoh berikut.
Saat benar-benar tidak memiliki preferensi
A: “Mau makan bakso atau soto?”
B: “Terserah. Aku ikut kamu.”
Tidak ada masalah jika setelah keputusan dibuat B tetap nyaman.
Saat sedang lelah
A: “Malam ini mau masak atau pesan makanan?”
B: “Terserah, aku lagi capek banget.”
Konteksnya menunjukkan kemungkinan bahwa B sedang kelelahan dan tidak ingin mengambil keputusan.
Saat merasa tidak didengarkan
A: “Besok kita pergi ke tempat yang kemarin kamu pilih saja.”
B: “Terserah.”
Jika sebelumnya B sudah beberapa kali mengusulkan pilihan tetapi tidak pernah dipertimbangkan, jawaban tersebut bisa menjadi tanda adanya kekecewaan.
Saat ingin menghindari konflik
A: “Menurutmu cara ini bagus?”
B: “Terserah, ikut keputusan kalian saja.”
Dalam konteks pekerjaan, respons tersebut mungkin menunjukkan seseorang tidak ingin masuk ke perdebatan.
Bagaimana Cara Menghadapi Orang yang Sering Bilang “Terserah”?
Jangan selalu memaksa mereka memberikan jawaban panjang.
Cobalah membuat pilihan menjadi lebih mudah.
Daripada bertanya:
“Mau makan apa?”
coba:
“Kamu lebih ingin nasi goreng atau bakso?”
Pertanyaan dengan dua pilihan dapat membantu orang yang kesulitan menentukan keputusan.
Jika merasa “terserah” disampaikan karena ada masalah, gunakan pendekatan yang tidak menghakimi.
Misalnya:
“Kalau kamu sebenarnya punya pilihan lain, bilang saja. Aku tidak masalah mendengarnya.”
Hal terpenting adalah mendengarkan jawabannya, bukan hanya menebak maksud di balik kata “terserah”.
Jangan Cepat Menilai Kepribadian dari Satu Kata
Menurut saya, salah satu kesalahan dalam membaca karakter seseorang adalah terlalu cepat menarik kesimpulan dari kebiasaan bahasa.
Orang yang sering berkata “terserah” belum tentu pasif, tidak peduli, sulit mengambil keputusan, atau sedang marah.
Maknanya bisa berbeda tergantung hubungan, situasi, kebiasaan, dan intonasi.
Bahkan orang yang sama dapat menggunakan “terserah” dengan makna berbeda pada hari yang berbeda.
Karena itu, lihat pola, bukan satu kata.
Jika seseorang selalu menghindari keputusan penting, tidak pernah menyampaikan kebutuhan, atau tampak kecewa tetapi menolak menjelaskan alasannya, barulah pola komunikasi tersebut layak diperhatikan.
Pada akhirnya, komunikasi yang sehat bukan tentang seberapa sering seseorang mengatakan “terserah”, melainkan apakah kedua pihak dapat menyampaikan keinginan, mendengarkan pendapat, dan menghargai pilihan masing-masing.
FAQ
Apakah orang yang sering berkata “terserah” berarti tidak punya pendirian?
Belum tentu. “Terserah” bisa berarti seseorang memang fleksibel, tidak memiliki preferensi, sedang lelah, atau ingin memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memilih.
Mengapa seseorang menjawab “terserah” ketika sedang ditanya?
Alasannya bermacam-macam. Bisa karena tidak ingin berdebat, kesulitan mengambil keputusan, sedang lelah, tidak ingin merepotkan orang lain, atau memang tidak mempunyai pilihan tertentu.
Apakah “terserah” selalu berarti sedang marah?
Tidak. Nada suara dan situasi sangat penting. “Terserah” dengan nada santai tentu berbeda dengan “terserah” yang disampaikan dengan nada tinggi atau dingin.
Bagaimana menghadapi orang yang selalu menjawab “terserah”?
Berikan pilihan yang lebih spesifik dan jangan memaksa. Jika Anda merasa ada masalah emosional di balik jawabannya, ajak berbicara secara terbuka tanpa langsung menuduh atau menghakimi.
Apakah kebiasaan mengatakan “terserah” bisa mengganggu hubungan?
Bisa, terutama jika seseorang selalu menghindari menyampaikan keinginannya tetapi kemudian kecewa ketika orang lain membuat keputusan. Komunikasi yang lebih jelas dapat mengurangi kesalahpahaman.
Apa yang sebaiknya dilakukan jika sebenarnya kita tidak suka dengan pilihan orang lain?
Sampaikan dengan jujur tetapi tetap sopan. Daripada mengatakan “terserah” kemudian merasa kesal, lebih baik mengatakan, “Aku sebenarnya kurang suka pilihan itu, bagaimana kalau kita cari alternatif lain?”
Kesimpulan: sering mengatakan “terserah” tidak otomatis menunjukkan satu tipe kepribadian tertentu. Jawaban tersebut dapat mencerminkan fleksibilitas, kelelahan, penghindaran konflik, kesulitan mengambil keputusan, atau bahkan kekecewaan yang belum disampaikan. Kuncinya adalah melihat konteks dan pola komunikasi secara keseluruhan.
Konten ini gratis dan dibuat untuk membantu para Pembaca. Kalau bermanfaat, dukung Mitraloker lewat secangkir kopi ya 🙏
☕ Traktir Mitraloker
Social Plugin