Harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi perhatian masyarakat setelah pemerintah memastikan harga BBM subsidi jenis Pertalite tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026. Di sisi lain, kebijakan berbeda berlaku untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan produk lainnya.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa harga BBM nonsubsidi akan menyesuaikan perkembangan harga pasar. Penyesuaian tersebut dilakukan dengan melihat rata-rata harga dalam periode tertentu.
Artinya, pergerakan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi harga BBM nonsubsidi di Indonesia.
Kondisi ini berbeda dengan Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi. Pemerintah memastikan harga Pertalite tetap berada di angka Rp10.000 per liter hingga akhir tahun 2026.
Harga Keekonomian Pertamax Diperkirakan Rp18.350
Peneliti sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, sebelumnya memberikan proyeksi mengenai harga BBM nonsubsidi pada Oktober 2026.
Berdasarkan perhitungan menggunakan perkembangan harga pasar, harga BBM nonsubsidi diperkirakan mengalami kenaikan sekitar 5% hingga 11%.
Untuk Pertamax, harga keekonomiannya diperkirakan sudah berada di kisaran Rp18.350 per liter apabila dihitung berdasarkan formula pasar.
Namun, angka tersebut perlu dipahami sebagai harga keekonomian atau hasil perhitungan berdasarkan formula, bukan berarti Pertamax otomatis akan dijual kepada konsumen dengan harga Rp18.350 per liter.
Harga jual di tingkat konsumen tetap dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan keputusan perusahaan penyalur BBM.
Menurut Yayan, harga Pertamax kemungkinan masih dapat ditahan meskipun harga berdasarkan perhitungan keekonomian sudah berada di atas harga jual yang berlaku.
Harga Minyak Dunia Jadi Salah Satu Faktor Utama
Salah satu penyebab meningkatnya proyeksi harga BBM nonsubsidi adalah kenaikan harga minyak dunia.
Dalam perhitungan yang disampaikan Yayan, rata-rata harga Mean of Platts Singapore (MOPS) untuk bensin meningkat dari sekitar US$111,4 per barel pada periode sebelumnya menjadi sekitar US$126,7 per barel untuk jendela harga berikutnya.
MOPS merupakan salah satu acuan yang digunakan dalam perhitungan harga produk BBM di kawasan Asia.
Kenaikan harga minyak tersebut memberikan tekanan terhadap formula harga BBM. Walaupun nilai tukar rupiah pada periode yang dibandingkan justru mengalami penguatan, dampak kenaikan harga minyak tetap cukup besar.
Nilai tukar rupiah dalam perhitungan tersebut bergerak dari sekitar Rp17.892 per dolar AS menjadi Rp17.630 per dolar AS.
Dengan kombinasi perkembangan harga minyak dan nilai tukar tersebut, proyeksi harga BBM nonsubsidi tetap menunjukkan potensi kenaikan.
Proyeksi Harga BBM Nonsubsidi Lainnya
Bukan hanya Pertamax yang mengalami tekanan harga. Beberapa produk BBM nonsubsidi lainnya juga diproyeksikan mengalami kenaikan apabila mengikuti formula pasar.
Berikut gambaran proyeksi harga yang disampaikan Yayan:
| Jenis BBM | Proyeksi harga |
|---|---|
| Pertamax | Sekitar Rp18.350/liter |
| Pertamax Turbo | Sekitar Rp21.450/liter |
| Dexlite | Sekitar Rp25.000/liter |
| Pertamina Dex | Sekitar Rp26.600/liter |
Angka tersebut merupakan proyeksi harga berdasarkan kondisi dan formula pasar, sehingga tidak dapat langsung dianggap sebagai harga eceran resmi yang harus dibayar konsumen.
Perubahan harga aktual tetap bergantung pada kebijakan penetapan harga BBM nonsubsidi.
Mengapa Harga BBM Nonsubsidi Mengikuti Pasar?
BBM nonsubsidi memiliki mekanisme harga yang berbeda dibandingkan BBM bersubsidi. Ketika harga minyak dunia mengalami perubahan signifikan, biaya dasar produk BBM juga dapat ikut berubah.
Selain harga minyak mentah dan produk BBM di pasar internasional, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi faktor penting.
Hal ini karena perdagangan minyak dan produk energi internasional pada umumnya menggunakan dolar AS. Ketika rupiah melemah terhadap dolar, biaya dalam rupiah dapat meningkat. Sebaliknya, penguatan rupiah dapat membantu mengurangi sebagian tekanan tersebut.
Namun, pergerakan kurs saja tidak selalu cukup untuk mengimbangi kenaikan harga minyak. Kondisi inilah yang terlihat dalam proyeksi Oktober 2026.
Meskipun rupiah dalam periode perhitungan mengalami penguatan, kenaikan harga MOPS yang cukup besar tetap membuat harga BBM nonsubsidi diproyeksikan meningkat.
Bagaimana dengan Pertalite?
Bagi masyarakat yang menggunakan Pertalite, pemerintah memastikan harga BBM tersebut tetap Rp10.000 per liter hingga akhir 2026.
Dengan demikian, kenaikan harga minyak dunia tidak secara otomatis diteruskan kepada konsumen Pertalite dalam bentuk kenaikan harga jual.
Situasinya berbeda dengan BBM nonsubsidi. Pemerintah menyampaikan bahwa harga BBM nonsubsidi akan menyesuaikan perkembangan harga pasar.
Kebijakan tersebut membuat konsumen perlu membedakan antara harga BBM subsidi, harga BBM nonsubsidi, dan harga keekonomian.
Harga keekonomian merupakan hasil perhitungan berdasarkan komponen biaya dan kondisi pasar. Sementara harga eceran yang dibayar konsumen merupakan harga yang ditetapkan setelah mempertimbangkan kebijakan penetapan harga.
Apa Dampaknya bagi Pengendara?
Jika harga BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian, pengendara yang menggunakan Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, atau Pertamina Dex perlu memperhitungkan kembali biaya bahan bakar bulanan.
Besarnya dampak tentu berbeda-beda tergantung jenis kendaraan, konsumsi BBM, jarak tempuh, dan frekuensi penggunaan kendaraan.
Sebagai contoh, pengendara yang menggunakan 40 liter BBM per bulan akan merasakan dampak kenaikan yang berbeda dibandingkan pengguna yang menghabiskan 80 atau 100 liter per bulan.
Karena itu, perubahan harga BBM bukan hanya berkaitan dengan harga per liter. Bagi sebagian rumah tangga, perubahan tersebut juga dapat memengaruhi anggaran transportasi bulanan.
Harga Resmi Tetap Menjadi Acuan
Meski proyeksi harga keekonomian Pertamax berada di sekitar Rp18.350 per liter, masyarakat sebaiknya tidak langsung menganggap angka tersebut sebagai harga resmi di SPBU.
Proyeksi dan harga resmi merupakan dua hal berbeda.
Harga resmi yang dibayar konsumen tetap mengacu pada harga yang ditetapkan dan diumumkan oleh pihak terkait. Oleh karena itu, perubahan harga sebaiknya selalu dicek melalui pengumuman resmi agar masyarakat tidak salah mendapatkan informasi.
Perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, dan kebijakan pemerintah akan terus menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga BBM nonsubsidi.
Untuk saat ini, informasi yang tersedia menunjukkan bahwa Pertalite tetap Rp10.000 per liter hingga akhir 2026, sementara BBM nonsubsidi akan mengikuti mekanisme penyesuaian berdasarkan kondisi pasar.
Kesimpulan
Harga Pertamax dan BBM nonsubsidi berpotensi mengalami penyesuaian mengikuti perkembangan pasar. Proyeksi Yayan Satyakti menunjukkan kenaikan sekitar 5%-11% untuk BBM nonsubsidi pada Oktober 2026.
Harga keekonomian Pertamax diperkirakan mencapai sekitar Rp18.350 per liter. Sementara Pertamax Turbo diproyeksikan sekitar Rp21.450, Dexlite Rp25.000, dan Pertamina Dex Rp26.600 per liter.
Namun, angka tersebut merupakan proyeksi harga berdasarkan formula pasar, bukan penetapan harga eceran resmi.
Di sisi lain, pemerintah memastikan harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter hingga akhir 2026. Perbedaan mekanisme inilah yang membuat perkembangan harga BBM nonsubsidi perlu terus dipantau oleh konsumen.
Konten ini gratis dan dibuat untuk membantu para Pembaca. Kalau bermanfaat, dukung Mitraloker lewat secangkir kopi ya 🙏
☕ Traktir Mitraloker
Social Plugin