Kisah Nabi Muhammad Berdagang ke Syam dan Bertemu Buhaira

Kisah Nabi Muhammad Berdagang ke Syam dan Bertemu Buhaira


Kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW sejak masa kanak-kanak menyimpan banyak pelajaran. Sebelum menerima wahyu dan diangkat menjadi Rasul, beliau telah melewati berbagai pengalaman yang membentuk keteladanan dalam kehidupan.

Salah satu kisah yang dikenal dalam sirah nabawiyah adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW bersama pamannya, Abu Thalib, menuju Syam untuk berdagang. Dalam perjalanan tersebut, beliau disebut bertemu dengan seorang pendeta bernama Buhaira di wilayah Bushra.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu kisah yang banyak dibahas dalam literatur sejarah kehidupan Rasulullah SAW. Pertemuan itu dikisahkan berkaitan dengan tanda-tanda kenabian yang dikenali oleh Buhaira.

Nabi Muhammad SAW Diasuh Abu Thalib

Nabi Muhammad SAW telah kehilangan kedua orang tuanya sejak masih kecil. Setelah ibunya, Aminah, wafat, beliau berada dalam pengasuhan kakeknya, Abdul Muthalib.

Setelah Abdul Muthalib meninggal, pengasuhan Nabi Muhammad SAW dilanjutkan oleh pamannya, Abu Thalib. Ketika itu, Rasulullah SAW disebut berusia sekitar delapan tahun.

Abu Thalib kemudian memberikan perhatian besar kepada keponakannya tersebut. Meskipun kehidupan Abu Thalib tidak berlebihan, Nabi Muhammad SAW diperlakukan dengan penuh kasih sayang seperti anak sendiri.

Dalam salah satu riwayat sirah yang dirujuk dalam kisah tersebut, pengalaman bersama Abu Thalib kemudian membawa Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan perdagangan ke Syam.

Nabi Muhammad SAW Ikut Berdagang ke Syam

Ketika berusia sekitar 12 tahun, Nabi Muhammad SAW disebut ikut Abu Thalib dalam perjalanan dagang menuju Syam.

Pada masa tersebut, perjalanan perdagangan dari Makkah menuju wilayah Syam merupakan perjalanan yang panjang. Para pedagang biasanya melakukan perjalanan bersama rombongan atau kafilah agar lebih aman.

Dalam perjalanan itu, rombongan Abu Thalib sampai di Bushra. Di wilayah inilah kisah pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan seorang pendeta bernama Buhaira berlangsung.

Menurut sumber yang dirujuk dalam artikel detikHikmah, Buhaira merupakan seorang pendeta yang tinggal di wilayah tersebut. Ia disebut memiliki pengetahuan mengenai kitab-kitab terdahulu dan tanda-tanda yang berkaitan dengan nabi terakhir.

Pertemuan dengan Pendeta Buhaira

Kisah tersebut menceritakan bahwa Buhaira melihat sesuatu yang berbeda pada rombongan dagang Quraisy.

Biasanya, Buhaira disebut tidak memberikan perhatian khusus kepada rombongan kafilah yang melintas. Namun ketika rombongan yang diikuti Nabi Muhammad SAW datang, Buhaira justru mempersilakan mereka untuk singgah.

Buhaira kemudian memperhatikan Nabi Muhammad SAW dan melihat sejumlah tanda yang menurut pengetahuannya berkaitan dengan nabi yang telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu.

Salah satu hal yang dikisahkan adalah keberadaan bayangan yang menaungi Nabi Muhammad SAW ketika rombongan beristirahat karena panasnya perjalanan.

Dalam kisah tersebut, Buhaira juga memperhatikan tanda kenabian yang terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW. Ia kemudian menyampaikan kepada Abu Thalib mengenai keistimewaan keponakannya itu.

Kisah pertemuan tersebut juga ditemukan dalam pembahasan sirah yang mengaitkannya dengan riwayat Ibnu Ishaq yang kemudian disyarah dan ditahqiq oleh Ibnu Hisyam. DetikHikmah sebelumnya juga pernah membahas kisah Buhaira dan tanda-tanda kenabian yang disebut terlihat ketika Nabi Muhammad SAW masih kecil.

Buhaira Meminta Abu Thalib Membawa Pulang Nabi Muhammad

Setelah memperhatikan Nabi Muhammad SAW, Buhaira disebut meminta Abu Thalib agar tidak meneruskan perjalanan ke wilayah lebih jauh dan segera membawa keponakannya kembali ke Makkah.

Dalam kisah yang dinukil tersebut, kekhawatiran Buhaira berkaitan dengan keselamatan Nabi Muhammad SAW apabila orang-orang tertentu mengetahui tanda-tanda yang ada pada dirinya.

Abu Thalib kemudian mengikuti nasihat tersebut dan membawa Nabi Muhammad SAW kembali.

Peristiwa ini menjadi bagian dari kisah masa kecil Rasulullah SAW yang kemudian dikenang dalam berbagai literatur sirah nabawiyah.

Penting untuk memahami bahwa detail kisah Buhaira berasal dari riwayat-riwayat sejarah dan sirah dengan pembahasan sanad serta tingkat penerimaan yang dapat berbeda di antara para ulama. Karena itu, kisah tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari literatur sejarah kehidupan Rasulullah SAW dengan tetap memperhatikan sumber yang digunakan.

Nabi Muhammad SAW Kembali Berdagang Saat Dewasa

Perjalanan ke Syam ketika masih kecil bukan menjadi satu-satunya perjalanan dagang Nabi Muhammad SAW menuju wilayah tersebut.

Ketika berusia sekitar 25 tahun, Rasulullah SAW kembali melakukan perjalanan perdagangan ke Syam. Kali ini, beliau membawa barang dagangan milik Khadijah binti Khuwailid, seorang saudagar perempuan terpandang dari Quraisy.

Khadijah dikenal sebagai saudagar yang menggunakan orang lain untuk menjalankan aktivitas perdagangan. Ia kemudian mendengar mengenai kejujuran, amanah, dan akhlak Nabi Muhammad SAW.

Karena reputasi tersebut, Khadijah mempercayakan barang dagangannya kepada Nabi Muhammad SAW untuk dibawa ke Syam. Dalam perjalanan tersebut, beliau ditemani seorang pembantu bernama Maisarah.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan Rasulullah SAW sebelum masa kenabian.

Kejujuran dan amanah menjadi karakter yang sangat dikenal dari diri beliau. Reputasi tersebut pula yang membuat masyarakat Makkah memberikan kepercayaan kepada Nabi Muhammad SAW dalam berbagai urusan.

Pelajaran dari Kisah Perjalanan Nabi Muhammad SAW

Kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Syam bersama Abu Thalib dapat menjadi bahan renungan mengenai kehidupan Rasulullah SAW sebelum menerima wahyu.

Pertama, kehidupan Nabi Muhammad SAW sejak kecil tidak selalu mudah. Beliau telah mengalami kehilangan orang-orang terdekat, tetapi tetap tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memberikan perlindungan dan kasih sayang.

Kedua, perjalanan perdagangan memperlihatkan bahwa Rasulullah SAW telah mengenal aktivitas ekonomi sejak usia muda. Ketika dewasa, kejujuran dan amanah menjadi bagian penting dari reputasinya sebagai seorang pedagang.

Ketiga, kisah pertemuan dengan Buhaira mengingatkan umat Islam untuk mempelajari sirah secara hati-hati. Kisah sejarah Rasulullah SAW memiliki berbagai sumber dengan tingkat kekuatan riwayat yang perlu diperhatikan.

Keempat, kehidupan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa pengalaman hidup dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju tanggung jawab yang lebih besar.

Nabi Muhammad SAW kemudian menerima wahyu pertama di Gua Hira pada usia 40 tahun dan menjalankan tugas sebagai Rasul Allah. Jauh sebelum masa tersebut, kehidupan beliau telah diwarnai pengalaman sebagai seorang yatim, anak asuh Abu Thalib, penggembala, hingga pedagang.

Kisah perjalanan ke Syam dan pertemuan dengan Buhaira menjadi salah satu bagian dari rangkaian panjang sejarah kehidupan Rasulullah SAW yang dapat dipelajari untuk memahami perjalanan beliau sebelum masa kenabian.


FAQ SEO

1. Berapa usia Nabi Muhammad SAW saat ikut berdagang ke Syam?

Nabi Muhammad SAW disebut berusia sekitar 12 tahun ketika mengikuti pamannya, Abu Thalib, dalam perjalanan dagang menuju Syam. 

2. Siapa pendeta Buhaira?

Buhaira atau Bahira dikenal dalam sejumlah riwayat sirah sebagai seorang pendeta yang berada di wilayah Bushra dan dikisahkan mengenali tanda-tanda kenabian pada diri Nabi Muhammad SAW.

3. Di mana Nabi Muhammad SAW bertemu Buhaira?

Pertemuan tersebut dikisahkan terjadi di Bushra, wilayah yang berada dalam kawasan Syam pada masa itu.

4. Apa yang dilihat Buhaira dari Nabi Muhammad SAW?

Dalam kisah yang dinukil, Buhaira melihat sejumlah tanda yang menurut pengetahuannya berkaitan dengan nabi terakhir, termasuk tanda yang dikaitkan dengan kenabian dan peristiwa bayangan yang menaungi Nabi Muhammad SAW.

5. Mengapa Buhaira meminta Abu Thalib membawa Nabi Muhammad pulang?

Dalam riwayat kisah tersebut, Buhaira mengkhawatirkan keselamatan Nabi Muhammad SAW apabila tanda-tanda yang dimilikinya diketahui oleh pihak yang dapat membahayakannya. 

6. Apakah Nabi Muhammad SAW kembali berdagang ke Syam?

Ya. Saat berusia sekitar 25 tahun, Nabi Muhammad SAW disebut kembali melakukan perjalanan dagang ke Syam dengan membawa barang dagangan milik Khadijah dan ditemani Maisarah. 

7. Apa pelajaran utama dari kisah Nabi Muhammad berdagang?

Di antaranya adalah pentingnya kejujuran, amanah, kerja keras, menjaga akhlak, serta mempelajari sejarah kehidupan Rasulullah SAW berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. 

⚑ APRESIASI PEMBACA

Konten ini gratis dan dibuat untuk membantu para Pembaca. Kalau bermanfaat, dukung Mitraloker lewat secangkir kopi ya 🙏

☕ Traktir Mitraloker