Stres sering dianggap sebagai masalah psikologis yang hanya memengaruhi suasana hati. Padahal, ketika berlangsung terlalu berat atau terlalu lama, stres juga dapat memberikan dampak terhadap kondisi fisik, termasuk sistem kardiovaskular.
Pertanyaannya, benarkah stres dapat memicu serangan jantung?
Dokter menjelaskan bahwa stres, terutama stres berat dan mendadak, memang dapat memberikan tekanan pada sistem kerja jantung. Namun, stres tidak serta-merta menjadi satu-satunya penyebab seseorang mengalami serangan jantung. Ada sejumlah faktor risiko lain yang turut berperan, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, usia, serta riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Stres Mendadak Bisa Memengaruhi Kerja Jantung
Ketika seseorang menghadapi situasi yang sangat menegangkan, tubuh secara otomatis mengaktifkan respons terhadap stres. Dalam kondisi tersebut, hormon seperti adrenalin dilepaskan dan menyebabkan detak jantung serta tekanan darah meningkat.
American Heart Association menjelaskan bahwa situasi yang membuat stres dapat memicu pelepasan adrenalin. Hormon tersebut membuat jantung berdetak lebih cepat dan tekanan darah meningkat sebagai bagian dari respons tubuh untuk menghadapi situasi yang dianggap mengancam.
Pada orang yang memiliki masalah pada pembuluh darah koroner, perubahan tersebut dapat menjadi lebih berisiko.
Menurut dokter yang dikutip dalam laporan detikHealth, peningkatan tekanan dan aktivitas jantung ketika mengalami stres berat dapat menjadi salah satu pemicu masalah pada plak yang sudah terdapat di pembuluh darah koroner. Jika plak tersebut pecah dan kemudian terbentuk gumpalan darah yang menghambat aliran darah menuju otot jantung, serangan jantung dapat terjadi.
Karena itu, tidak mengherankan jika dalam kondisi tertentu seseorang dapat mengalami gangguan jantung setelah mengalami kejutan emosional yang sangat kuat, rasa takut luar biasa, atau ledakan emosi.
Meski demikian, hal tersebut tidak berarti setiap orang yang mengalami stres akan terkena serangan jantung.
Stres Bukan Satu-Satunya Penyebab
Penting untuk memahami bahwa hubungan antara stres dan penyakit jantung tidak sesederhana "stres menyebabkan serangan jantung".
Risiko penyakit jantung dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa di antaranya adalah tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, diabetes, merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, obesitas, usia, serta faktor keturunan.
Dalam laporan detikHealth, dokter juga menekankan bahwa stres saja tidak secara otomatis menyebabkan serangan jantung. Risiko dapat menjadi lebih besar ketika stres terjadi pada seseorang yang sudah mempunyai faktor risiko penyakit jantung.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat bahwa penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Pada 2022, diperkirakan 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular, atau sekitar 32 persen dari seluruh kematian global. Sekitar 85 persen kematian tersebut berkaitan dengan serangan jantung dan stroke.
Data tersebut menunjukkan pentingnya mengenali berbagai faktor risiko penyakit jantung, bukan hanya memperhatikan gejala ketika sudah muncul.
Bahaya Stres Kronis bagi Jantung
Selain stres mendadak, stres yang berlangsung dalam waktu panjang juga perlu mendapat perhatian.
Stres kronis dapat terjadi ketika seseorang terus-menerus menghadapi tekanan selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan lebih lama. Kondisi ini membuat tubuh seolah terus berada dalam keadaan siaga.
American Heart Association menyebut stres kronis dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Selain itu, stres juga dapat memengaruhi kebiasaan yang berkaitan dengan risiko penyakit jantung, seperti merokok, makan berlebihan, kurang berolahraga, pola makan tidak sehat, dan gangguan tidur.
Dalam laporan detikHealth, dokter juga menjelaskan bahwa stres jangka panjang dapat berhubungan dengan tekanan darah tinggi, proses peradangan pada pembuluh darah, dan gangguan sistem listrik jantung yang dapat menyebabkan irama jantung tidak teratur atau aritmia.
Masalahnya, seseorang yang mengalami stres kronis terkadang tidak menyadari bahwa tubuhnya sudah terlalu lama berada dalam kondisi tertekan.
Gangguan tidur, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, perubahan nafsu makan, hingga kebiasaan mengonsumsi kafein secara berlebihan dapat muncul bersamaan dengan stres.
Mengapa Stres Bisa Mengubah Kebiasaan Hidup?
Dampak stres terhadap jantung juga dapat terjadi secara tidak langsung.
Ketika mengalami tekanan dalam waktu lama, sebagian orang mungkin menjadi lebih sulit menjaga pola hidup sehat. Misalnya, tidur semakin larut, jarang berolahraga, lebih sering mengonsumsi makanan tinggi kalori, atau kembali merokok.
American Heart Association mencatat bahwa stres dapat berkontribusi terhadap sejumlah perilaku yang meningkatkan risiko penyakit jantung, termasuk merokok, makan berlebihan dan kurang melakukan aktivitas fisik.
Artinya, mengelola stres bukan hanya bertujuan membuat pikiran lebih tenang. Mengurangi stres juga dapat membantu seseorang mempertahankan kebiasaan hidup yang lebih sehat.
Bagaimana Cara Mengelola Stres?
Tidak semua sumber stres dapat dihilangkan. Namun, seseorang dapat belajar mengelola respons tubuh dan pikirannya terhadap tekanan.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Berolahraga secara teratur. Aktivitas fisik dapat menjadi bagian dari pola hidup untuk menjaga kesehatan jantung sekaligus membantu mengelola stres.
- Menjaga kualitas tidur. Kurang tidur dapat membuat tubuh dan pikiran semakin sulit menghadapi tekanan.
- Mengatur pola makan. Pilih makanan bergizi dan batasi kebiasaan makan berlebihan akibat stres.
- Mengurangi rokok. Berhenti merokok merupakan salah satu langkah penting untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
- Melakukan relaksasi. Teknik pernapasan, meditasi, ibadah, atau aktivitas yang membuat tubuh lebih rileks dapat menjadi bagian dari pengelolaan stres.
- Mencari dukungan. Berbicara dengan orang yang dipercaya atau tenaga profesional dapat membantu ketika tekanan terasa sulit dikendalikan.
American Heart Association juga merekomendasikan aktivitas seperti olahraga, meluangkan waktu bersama keluarga atau teman, serta teknik relaksasi sebagai bagian dari pengelolaan stres.
Kenali Gejala yang Tidak Boleh Diabaikan
Meskipun seseorang menganggap keluhan yang dialaminya disebabkan oleh stres, gejala yang mengarah pada masalah jantung tetap harus diperhatikan.
Nyeri atau tekanan di dada, sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, atau rasa tidak nyaman yang menjalar ke lengan, punggung, leher, atau rahang dapat menjadi tanda kondisi serius.
Jika gejala tersebut muncul, terutama secara tiba-tiba atau berat, jangan langsung menganggapnya hanya sebagai efek stres. Segera cari pertolongan medis.
Kesimpulan
Stres memang dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan jantung, baik melalui respons tubuh secara langsung maupun melalui perubahan kebiasaan hidup. Stres akut dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, sementara stres kronis dapat berkontribusi terhadap sejumlah faktor yang berkaitan dengan penyakit jantung.
Namun, stres bukan satu-satunya penyebab serangan jantung. Risiko seseorang juga dipengaruhi kondisi kesehatan dan faktor lainnya.
Karena itu, menjaga kesehatan jantung sebaiknya dilakukan secara menyeluruh: mengendalikan tekanan darah dan kolesterol, tidak merokok, aktif bergerak, menjaga pola makan, tidur cukup, serta mengelola stres.
Catatan: Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti diagnosis atau pemeriksaan dokter.
FAQ SEO
1. Apakah stres bisa menyebabkan serangan jantung?
Stres berat dapat memengaruhi kerja jantung dan meningkatkan tekanan darah. Pada orang yang memiliki faktor risiko penyakit jantung, stres berat dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya masalah kardiovaskular. Namun, stres bukan satu-satunya penyebab serangan jantung.
2. Apa pengaruh stres terhadap jantung?
Stres dapat membuat detak jantung dan tekanan darah meningkat. Stres kronis juga dapat berkontribusi terhadap kebiasaan tidak sehat, seperti merokok, kurang olahraga, makan berlebihan, dan gangguan tidur yang berkaitan dengan risiko penyakit jantung.
3. Apa itu stres kronis?
Stres kronis adalah kondisi ketika seseorang mengalami tekanan secara terus-menerus dalam waktu yang panjang. Kondisi tersebut dapat membuat tubuh berada dalam keadaan siaga berkepanjangan dan berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi serta masalah kesehatan lainnya.
4. Apakah orang yang stres pasti terkena serangan jantung?
Tidak. Mengalami stres tidak berarti seseorang pasti mengalami serangan jantung. Risiko dipengaruhi banyak faktor, termasuk tekanan darah, kolesterol, diabetes, merokok, usia, riwayat keluarga, pola hidup, dan kondisi pembuluh darah.
5. Bagaimana cara mengurangi risiko penyakit jantung?
Menjaga aktivitas fisik, menerapkan pola makan sehat, tidak merokok, menjaga berat badan, mengontrol tekanan darah dan kolesterol, tidur cukup, serta mengelola stres merupakan bagian penting dari pencegahan penyakit kardiovaskular.
6. Kapan nyeri dada harus diperiksa?
Nyeri atau tekanan dada yang muncul tiba-tiba, terutama jika disertai sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, atau nyeri yang menjalar ke bagian tubuh lain, perlu mendapat pertolongan medis segera.
Konten ini gratis dan dibuat untuk membantu para Pembaca. Kalau bermanfaat, dukung Mitraloker lewat secangkir kopi ya 🙏
☕ Traktir Mitraloker
Social Plugin